Denpasar, Bali — Hujan deras yang mengguyur wilayah Bali sejak akhir pekan lalu memicu bencana banjir besar yang mencatatkan korban jiwa terbanyak dalam satu dekade terakhir. Sebanyak 18 orang dilaporkan meninggal dunia dan 4 orang masih hilang. Tragedi ini menjadi catatan kelam baru bagi masyarakat Bali sekaligus peringatan bahwa ancaman banjir kini semakin nyata, bahkan di daerah wisata dunia.
Kronologi Banjir Besar di Bali
Hujan deras mulai mengguyur Bali sejak Jumat malam. Intensitas hujan yang tinggi membuat beberapa sungai di Denpasar, Badung, dan Gianyar meluap. Debit air meningkat pesat, tidak hanya merendam pemukiman warga tetapi juga fasilitas umum serta kawasan wisata.
Pada Sabtu dini hari, luapan Sungai Yeh Poh dan beberapa anak sungai di Kuta Utara mulai memasuki kawasan permukiman. Air setinggi 1–1,5 meter menutup akses jalan. Sejumlah warga terjebak di dalam rumah mereka hingga tim SAR turun langsung untuk melakukan evakuasi.
Korban Jiwa & Hilang
Hingga laporan terakhir, 18 orang ditemukan meninggal dunia, sebagian besar karena terjebak di dalam rumah saat air datang tiba-tiba. Sementara 4 orang masih dinyatakan hilang di wilayah Gianyar dan Tabanan. Tim SAR gabungan bersama relawan terus melakukan pencarian dengan perahu karet di sepanjang aliran sungai.
Korban terdiri dari warga lokal dan satu wisatawan asing yang sedang menginap di vila kawasan Canggu. Kejadian ini menambah duka mendalam bagi keluarga korban serta masyarakat Bali yang tengah bergantung pada pariwisata.
Kerugian Materiil
Selain korban jiwa, kerugian materiil akibat banjir diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
-
Ratusan rumah warga terendam.
-
16 vila mewah di kawasan Berawa ikut terendam hingga setinggi pinggang.
-
Puluhan kendaraan roda dua dan empat rusak akibat terendam air.
-
Beberapa fasilitas wisata di Kuta dan Canggu terpaksa ditutup sementara.
Kondisi ini tentu memberi dampak lanjutan pada sektor pariwisata Bali yang baru mulai bangkit pasca pandemi.
Penyebab Utama Banjir
Ada beberapa faktor yang memicu banjir besar kali ini:
-
Curah hujan ekstrem
Hujan deras dengan intensitas tinggi dalam waktu lama membuat debit sungai naik drastis. -
Drainase yang buruk
Banyak saluran air tersumbat sampah dan endapan lumpur, menyebabkan aliran air terhambat. -
Alih fungsi lahan
Pertumbuhan pesat vila, hotel, dan kafe di kawasan wisata mengurangi area resapan air. -
Minimnya normalisasi sungai
Beberapa sungai sudah dangkal, namun belum mendapatkan perhatian penuh dari pihak berwenang.
Respons Pemerintah & Evakuasi
Pemerintah Provinsi Bali langsung menetapkan status tanggap darurat bencana banjir.
-
Tim SAR dan BPBD dikerahkan di titik-titik rawan.
-
Posko pengungsian didirikan di beberapa lokasi, termasuk Denpasar dan Badung.
-
Evakuasi wisatawan asing dilakukan oleh Dinas Pariwisata bekerja sama dengan pihak hotel dan vila.
Selain itu, BMKG Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Suara Warga
Sejumlah warga mengaku trauma karena banjir kali ini datang sangat cepat. Bahkan, mereka tidak sempat menyelamatkan barang berharga. “Air langsung masuk setinggi pinggang, kami hanya bisa lari menyelamatkan diri,” ungkap Made, salah satu warga Tibubeneng.
Wisatawan asing yang sempat dievakuasi juga menyampaikan kekecewaannya. Beberapa memutuskan pindah hotel, sementara lainnya memilih segera meninggalkan Bali. Hal ini tentu berdampak serius pada citra pariwisata Bali di mata internasional.
Tantangan Jangka Panjang
Tragedi banjir besar ini seolah membuka mata banyak pihak bahwa Bali tidak hanya rawan gempa dan letusan gunung, tetapi juga banjir. Beberapa poin penting yang harus segera ditangani antara lain:
-
Normalisasi sungai secara berkala.
-
Penataan drainase di kawasan wisata.
-
Edukasi masyarakat tentang kebersihan sungai dan pembuangan sampah.
-
Regulasi ketat terhadap pembangunan di area resapan air.
Tanpa langkah serius, banjir serupa bisa kembali terjadi dan menelan korban lebih banyak.
Harapan & Solusi
Masyarakat berharap tragedi ini menjadi wake up call bagi semua pihak. Pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan masyarakat harus bekerja sama menjaga lingkungan. Mitigasi bencana banjir harus menjadi prioritas, mengingat Bali adalah daerah dengan kepadatan penduduk tinggi sekaligus destinasi wisata kelas dunia.
Pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan menjadi kunci. Dengan begitu, Bali bisa tetap menjadi pulau indah yang aman bagi warga dan wisatawan.
Kesimpulan
Tragedi banjir di Bali yang menewaskan 18 orang dan membuat 4 orang hilang ini menjadi catatan kelam bagi sejarah bencana di Pulau Dewata. Selain menelan korban jiwa, banjir juga memberi kerugian besar bagi warga dan industri pariwisata.
Bencana ini harus dijadikan momentum bersama untuk memperbaiki sistem drainase, menjaga sungai, dan menata pembangunan agar lebih ramah lingkungan. Hanya dengan langkah konkret, Bali bisa terhindar dari tragedi serupa di masa depan.




